SUKABUMITREN.COM - Sejumlah pelajar dari berbagai sekolah pada Rabu, 21 Januari 2026, terpaksa berangkat ke tempatnya menuntut ilmu dengan menggunakan perahu karet, akibat rusaknya Jembatan Gantung Leuwidinding di Sungai Cimandiri, Kabupaten Sukabumi. Jembatan gantung ini rusak diterjang luapan air Sungai Cimandiri pada 28 Desember 2025, dan merupakan akses penghubung utama antara dua kampung, yakni Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, serta Kampung Kebonjati, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi.
Jembatan gantung ini juga merupakan satu-satunya akses jalan bagi warga dari tiga desa, yaitu Desa Wangunreja dan Desa Sukamaju, Kecamatan Nyalindung, serta Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah.
Akibat rusaknya jembatan ini, aktivitas warga dan pelajar pun terganggu. Pemerintah Desa Tanjungsari juga khawatir kepada keselamatan warga, yang terpaksa harus menyeberangi Sungai Cimandiri saat cuaca buruk.





Perahu karet yang digunakan para pelajar ini milik BPBD Kabupaten Sukabumi
Kepala Desa Tanjungsari, Dilah Habillah, mengatakan, para pelajar dari Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, setiap hari harus menyeberangi Sungai Cimandiri dengan menggunakan perahu karet milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi. Para pelajar ini bersekolah di di Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, dan Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar.
“Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 48 meter dengan lebar 1,20 meter, dan berada di Kampung Leuwidinding, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jampangtengah, yang menghubungkan Kampung Kebonjati, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Gunungguruh, dan Desa Parakanlima, Kecamatan Cikembar. (Rusaknya jembatan ini) berdampak langsung pada aktivitas masyarakat (di) ketiga desa tersebut,” kata Dilah.
“Di sana ada dua sekolah, yaitu SD (Negeri) Kadupugur sama SD (Negeri) Leuwidinding. Muridnya dari Desa Wangunreja sama Desa Tanjungsari. Kampung Leuwidinding terdiri delapan RT,” ujar Dilah.
“Penyebabnya (jembatan rusak adalah) banjir (akibat) hujan deras beberapa hari. Jadi, tanggulnya kena luapan air. Sekarang, ada bantuan dari BPBD, yaitu perahu karet untuk sementara ini. Tapi, sangat beresiko ketika hujan besar,” tutur Dilah.


Jembatan Gantung Leuwidinding yang rusak sejak 28 Desember 2025
Popi, warga Desa Tanjungsari, mengaku, sejak rusaknya jembatan, ia setiap hari mengantar anaknya ke sekolah dengan menggunakan perahu karet. Jika air sungai meluap, ia terpaksa harus mencari jalan alternatif lain, yang jaraknya cukup jauh, yakni melalui area perusahaan PT Siam Cement Group (SCG).
Baca juga: Ironi di Pamuruyan Sukabumi: Jembatan Lama Diperbaiki, Jembatan Baru Dibiarkan Mangkrak 4 Tahun
“Mau pulang menyeberang, karena kalau lewat sana mutar, arahnya jauh, saya lewat sini saja. Pokoknya, kalau mutar, hampir tiga kali lipat (jaraknya),” ucap Popi.
“Kalau mau menyeberang, lihat situasi sungai. Kalau sungai meluap, terpaksa memutar jauh lewat SCG, dikasih izin. Tidak setiap hari menyeberang. Rumah ada di sana (Desa Tanjungsari). Kalau ke sini bolak balik, paling antar anak sekolah. Terpaksa harus pulang pergi, karena pagi berangkat harus menunggu lama, terpaksa pulang dulu. Suami kerja bawa motor lewat sana, muter,” keluh Popi. (*)
