Kopi, Pandemi, dan Teh

Senin, 8 Jul 2024 09:24
    Bagikan  
Kopi, Pandemi, dan Teh
Istimewa

SUKABUMITREN.COMPada sebuah sore, di bilangan Jakarta Selatan, aku terlibat obrolan serius tapi santai seputar teh dengan Satria Gunawan. Pemilik House of Tea (HoT) yang akrab disapa Pak Gun ini, saat itu dengan sangat antusias bercerita mengenai sejarah, jenis, cara pengolahan, hingga khasiat teh.

Beliau juga membeberkan suka-duka menjadi petani, sekaligus pembina para petani teh. “Semua ini didasari kecintaan saya pada teh, dan keinginan untuk menyejahterakan petani, dengan mempromosikan teh Indonesia, agar dikenal dunia,” paparnya.

Baca juga: Angga Ardiansyah, Raja Kopi Sukabumi


Obrolan itu membuka cakrawala baru bagiku, yang selama ini mengenal teh sebatas teh yang beredar di pasaran, dengan rasa dan aroma yang hampir sama, yakni sepet atau pahit, plus aroma bunga melati yang kuat.

Dan sangat nikmat bila diminum dalam kondisi sedikit panas serta manis, alias nasgitel (panas, legi, kentel). Karena nikmatnya nasgitel, teman kuliahku menjuluki minuman ini sebagai King of Drink.

Dari pemaparan Pak Gun, aku jadi tahu, bahwa teh yang beredar di pasaran bisa digolongkan menjadi dua jenis teh, yakni yang diproduksi secara massal, dan artisan tea atau teh premium. 

Untuk menghasilkan teh yang siap sedu, dibutuhkan waktu yang lama. Ada rantai produksi yang harus dicermati, mulai dari penanaman, pemeliharaan, cara pemanenan, hingga pengeringan, untuk menciptakan teh berkualitas.

Walau jenis tanamannya sama, namun beda daerahnya, beda proses panennya, beda pula teh yang dihasilkan. Mirip dengan yang terjadi pada industri kopi.

Baca juga: Rutin Ngopi Tiap Hari? Ini Dampak Bagus dan Buruknya Bagi Kesehatan Tubuh

Obrolan dengan Pak Gun itu memberikan pencerahan dalam diriku, untuk memulai kembali menghidupkan usaha kedai “Kopi Pakde”, yang tutup akibat imbas pandemi Covid 19, dengan menambah menu teh, atau khusus menyajikan menu teh. 

Ya, selepas bekerja di pelbagai media, aku memang memutuskan untuk mandiri, dengan membuka kedai kopi di bilangan BSD Serpong. Sebelum membuka kedai, biar mantab, aku  ikut kursus  kilat sebagai barista, serta  rajin  menambah pengetahuan seputar kopi, mulai dari pra panen hingga paska panen.

Nah, setelah merasa sedikit paham, dan ada modal, maka pada sekitar tahun 2016 berdirilah Kedai “Kopi Pakde”, dengan konsep menggabungkan kedai kopi dan ruang baca. Koleksi buku yang selama ini menggeletak tak tersentuh, kembali ditata rapi, dengan harapan: sambil ngopi baca buku. Motonya: Kopi Jendela Hati, Buku Jendela Dunia. Mantab kan!

Kenapa kedai kopi? Saat itu, sekitar tahun 2015-2016, usaha minuman dengan basis kopi mulai menggeliat. Bahkan, saat itu, sempat viral es kopi susu gula aren, yang pembelinya antri dan mengular. Kesuksesan menu ini, memicu banyak orang untuk membuka usaha minuman kopi kekinian.

Keberadaan “Kopi Pakde” pun lambat laun kian dikenal, bahkan sempat menjadi tempat nongkrong bapak bapak pecinta  touring, Dalam perjalanannya, persaingan kedai kopi kian keras. Hampir tiap bulan muncul kedai kopi baru, dan biasanya dengan menu yang hampir sama, dan tak jarang dengan kapital yang besar,

Pada saat yang sama, sewa tempat pun tiap tahun naik. Dan, akhirnya, kondisi usaha pun terpukul dengan sangat hebat, ketika pada 2020 terjadi wabah pandemi covid 19, yang ditandai oleh pembatasan sosial berskala besar (PSBB), serta pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Hampir semua sektor bisnis terimbas, termasuk “Kopi Pakde” yang akhirnya harus tutup.

Ah, sudahlah, kenapa mesti membahas kegagalan usaha? Lebih baik kembali ngobrol soal teh.

Ingatanku pun kembali ke obrolan dengan Pak Gun. Saat ini, seiring geliat dan maraknya industri perkopian, telah memicu pecinta teh untuk juga berusaha mempopulerkan produk teh Indonesia. Sama seperti kopi, di Indonesia banyak perkebunan teh yang mampu menghasilkan teh berkualitas. Terutama di daerah Sumatra dan Jawa.

Terngiang kembali penuturan Pak Gun, “Perkebunan teh di Indonesia sangat luas. Tapi, produknya  belum banyak dikenal di dunia. Itu tantangan kami, yang bergelut di industri teh, Nah, untuk menaikkan kualitas dan memasarkannya ke luar negeri, kami terjun langsung membina para petani. Awalnya susah karena sudah kebiasaan. Tapi, pelan-pelan, mereka mengerti, sehingga selain jumlah panenan meningkat, kualitasnya pun meningkat. Secara perlahan tapi pasti, hasil panen dari petani binaan kami sudah mulai diminati pasar luar negeri. Alhamdulilah.

Tantangan berikut, kata Beliau, adalah mempopuler produk artisan tea atau teh premium kepada masyarakat umum. “Kenapa mesti artisan tea? Karena dari rasa, aroma, dan khasiat teh yang sebenarnya, ada di teh jenis ini. Dan, saya jamin, sekali mencoba akan ketagihan,” ucapnya berpromosi, sambil menyedu teh kuning, yang dihasilkan dari teh jenis Camellia Sinensis Assamica, yang pohonnya berasal dari Sri Lanka.

Dan, ketika aku menikmatinya, anganku dibawa ke sebuah kenangan pada beberapa puluh tahun silam, saat diajak artis Marissa Haque ke Negeri Tirai Bambu, China, untuk meliput sinetron produksinya yang berjudul “Kembang Setaman”.

Apa itu Camellia Sinensi Assamica? Apa ada hubungannya dengan lagunya Ebiet G Ade? Tunggu cerita seputar teh selanjutnya, karena di dalam secangkir teh, ada banyak cerita di baliknya. Salam sepet teh.

*) Adi Pamungkas, penikmat teh Indonesia

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Derita Labbai Serupa Tjoddo: Tanah Hak Milik di Makassar “Dikalahkan” SHGB Perusahaan Besar

Lowongan Kerja

Nasional Senin, 16-Mar-2026 19:14
Lowongan Kerja

Info Lowongan Kerja

Rupa-Rupa Minggu, 15-Mar-2026 20:12
Info Lowongan Kerja
Tanah SK Redis Labbai Diduduki SHGB PT Bumi Karsa-Kalla Grup, Kejati Sulsel Selidiki Laporan Atas BPN Makassar
Alih Tanah Labbai ke PT Bumi Karsa-Kalla Grup Makassar, Keponakan Ungkap Siapa Sebenarnya H. Raiya Dg. Kanang
Viral Acungkan Kapak dan Teror Karyawati di Cicurug Sukabumi, Lelaki asal Cisaat Ditangkap Polisi
Dapat Ganti Rugi Tanah Lantebung, Ahli Waris Labbai Kian “Pede” Gugat PT Bumi Karsa-Kalla Grup di PN Makassar
Lebaran 2026: Selamat Tinggal Macet Horor Parungkuda-Sukabumi, Tol Bocimi Seksi 3 Siap Dibuka Fungsional
Puding Caramel Viral di Cibadak Sukabumi, Warga Cikole Sampai Jauh-Jauh Datang untuk Mengantre: “Rasanya Enak”
Duduki Tanah Ahli Waris Labbai dengan Modal SHGB, PT Bumi Karsa-Kalla Grup Bawa Bukti Fotokopi ke PN Makassar
Teladan Hukum Ahli Waris Labbai: Raih Ganti Rugi Tanpa Kekerasan, Lawan PT Bumi Karsa-Kalla Grup di Makassar
Imbauan Polda Gorontalo Jelang Idul Fitri: Hati-Hati Transaksi Emas dari Hasil PETI
Korban PT Bumi Karsa-Kalla Grup, Uang Ganti Rugi Tanah Ahli Waris Labbai Cair Juga: “Terima Kasih PN Makassar”
Jelang Buka Puasa, Kejari Kabupaten Sukabumi Berikan Takjil ke Pengguna Jalan, Kajari: “Kita Bagi-Bagi Rezeki”
Rugikan Negara Rp 394.861.618, Kades Neglasari Ditahan Kejari Kabupaten Sukabumi: “Ini Kriminalisasi"

Info Lowongan Kerja

Rupa-Rupa Kamis, 5-Mar-2026 20:23
Info Lowongan Kerja
Gelar Pengobatan Gratis, Kehadiran Bus Kesehatan Keliling PDIP Diapresiasi Kades dan Warga Nagrak Sukabumi

Info Lowongan Kerja

Rupa-Rupa Selasa, 3-Mar-2026 22:07
Info Lowongan Kerja
Diduga Dibuang, Bayi Lelaki Masih Hidup Ditemukan dalam Kebun Bambu di Parungkuda Sukabumi
Diguyur Hujan Intensitas Tinggi, Longsor dan Banjir Rendam Jalan dan Rumah Warga di Cibadak Sukabumi