SUKABUMITREN.COM - Hingga Minggu, 31 Agustus 2025, Umar Amarudin masih dirawat di RS Pelni, Petamburan, Jakarta Barat. Lelaki berusia 30 tahun ini merupakan satu dari dua korban yang terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri pada Kamis, 28 Agustus 2025. Satu korban lainnya, yakni Affan Kurniawan, meninggal dunia, yang kemudian memicu terjadinya kerusuhan massal di Jakarta.
Petaka yang dialami Umar itu disambut rasa prihatin adik kembarnya, Usman, yang kini tinggal di tempat kelahirannya di Kampung Sukamukti, RT 001/RW 001, Desa Cikidang, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi. Saat ditemui Jumat, 29 Agustus 2025, Usman mengatakan, Umar adalah kakak kembarnya, yang lahir setengah jam lebih dulu dari dirinya di Sukabumi, 19 Juni 1995.
Baca juga: 15 Tahun Dikurung Keluarga, Perempuan ODGJ di Nagrak Sukabumi Dibebaskan Relawan PSM
Di keluarga, Umar dan Usman adalah anak nomor 9 dan 10 dari 11 bersaudara. Orangtua keduanya, Haji Engkos dan Yoyoh, sudah meninggal dunia. Demi kebutuhan hidupnya sehari-hari, Umar bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol), setelah sebelumnya sempat pula bekerja di sebuah tempat usaha sablon.
“Iya kembar, beda setengah jam. Dia sekarang nge-Grab. Tadinya, dia nyambi (kerja yang lain). Sekarang sudah fokus di Grab. Sebelumnya kerja di sablon. Setelah itu keluar, baru dia fokus di Grab,” ujar Usman.
“Sekarang, sama adiknya ngekos. Bareng sama adiknya. Kalau adiknya kerja di retail. Kalau dia, (nge-grab) ada sekitar lima tahunan. Ngekos (di) daerah Slipi,” kata Usman.
Keluarga Umar saat dikunjungi petugas Polsek Cikidang
Selagi bekerja sebagai pengemudi Grab itu pula, Umar terlindas rantis Brimob Polri. “Informasinya dari Abang. Ngasih tahu, bahwa Umar di sana ada demo. Dia kena musibah di sana, gitu. Pihak keluarga baru mengontek ke sana. Ya, sambil nunggu kabar dari sana, di sini juga musyawarah gitu,” urai Usman.
“Kaget sebenernya. Kita nggak nyangka ya, ada kejadian seperti itu gitu. Kalau dia lagi bawa penumpang. Habis nurunin penumpang, tiba-tiba ada pendemo kali ya, dia ketabrak, lalu keseret,” tutur Usman.
“Kalau sama Umar, HP-nya sempet berdering. Cuma, setelah dari situ, sudah tidak aktif lagi,” ungkap Usman, yang sebagai adik kembar Umar, sempat merasa ada firasat tidak enak menjelang terjadinya peristiwa atas kakaknya itu. Kini, Usman berharap, Umar bisa lekas sembuh dan mendapat keadilan atas petaka yang dialaminya itu.
“Perasaannya ada. Cuma ngerasa nggak enak gitu. Ada ngerasa nggak enak. Takutnya ada hal tidak diinginkan terjadi, gitu,” ucap Usman.
“Yang luka sekarang katanya pinggang bagian kanan sakit, bekas (terlindas) itu. Ya, mudah-mudahan, Umar-nya bisa kembali sehat lagi dan mendapatkan keadilanlah,” kata Usman.
Usman, berharap keadilan bagi kakaknya, Umar
Senada dengan Usman, dua kakak kandung Umar, yakni Siti Aisyah dan Jejen, juga berharap ada keadilan bagi adiknya itu. “Ya, berharap ada keadilan yang sesuai. Kan ada korban juga di Jakarta Barat,” ujar Siti.
“Harapannya ya biasa aja. Pengin (Umar) sehat lagi seperti semula, gitu kan, bisa kerja lagi,” tegas Jejen. (*)