RRI di Usia ke-79: “Media yang Terus Memiliki Arti Penting Bagi Masyarakat”

Jumat, 13 Sep 2024 14:37
    Bagikan  
RRI di Usia ke-79: “Media yang Terus Memiliki Arti Penting Bagi Masyarakat”
Kin Sanubary

Radio Republik Indonesia (RRI) pada Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79

SUKABUMITREN.COM - Jumat sore begini, menjelang akhir pekan pada Sabtu besok dan Minggu, tentulah menjadi waktu yang senantiasa dinanti untuk sekadar bersantai-santai saja di rumah bersama keluarga. Namun, bila aktivitas berehat pada akhir pekan ini hendak dilalui sembari berkendara roda empat ke luar kota, maka pilihan mendengarkan beragam acara di radio pastilah dijamin menghibur dan terasa menyenangkan hati.

Radio memang tertakdir menjadi sarana komunikasi yang tiada pernah akan mati. Tak terkecuali, bila radio itu bernama Radio Republik Indonesia (RRI), atau sekarang disebut Lembaga Penyiaran Publik (LPP) RRI, yang baru pada Rabu lalu, 11 September 2024, merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79.

Baca juga: Masuk Musim Tanam Ketiga, Ketersediaan Pupuk Subsidi Bagi Petani di Sukabumi Dipastikan Aman

Pada hari jadinya ini, jajaran manajemen RRI menggelar upacara bendera di halaman kantor RRI di Jalan Medan Merdeka Barat, Gambir, Jakarta Pusat. Dalam upacara itu, Direktur Utama RRI, Dr. I. Hendrasmo, menjelaskan, bahwa tema yang diusung dalam HUT RRI tahun 2024 ini adalah “Relevan, Berdampak, dan Inspirasi Ke-Indonesia-an untuk Indonesia Maju”.

undefinedundefinedundefinedUpacara Bendera memperingati HUT RRI ke-79

Hendrasmo dalam kesempatan itu juga menyampaikan apresiasinya terhadap kinerja angkasawan dan angkasawati RRI. Ia pun mendorong para angkasawan dan angkasawati RRI untuk terus berkolaborasi, serta memperkuat reputasi RRI secara berkelanjutan, melalui konten yang berkualitas.

Baca juga: Dijaga Ketat, Pertandingan Tanpa Penonton Dewa United vs PSIS Semarang di Bandung Berjalan Aman dan Kondusif

Menurut Hendrasmo, untuk menjadi media yang dipercaya publik, RRI perlu merancang strategi yang efektif. Termasuk memperkuat akuntabilitas demokrasi, tata kelola lembaga, dan tata kelola keuangan.

“RRI menjadi media yang terus memiliki arti penting bagi masyarakat, sekalipun banyak pilihan dari berbagai media maupun platform. Kita juga meniatkan diri, supaya RRI memberikan dampak melalui siaran atau konten yang disampaikan, serta memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk mencintai Tanah Air Indonesia,” ujar Hendrasmo, yang semasa mahasiswa di Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, pernah menjadi host atau pembawa acara “Universitaria” di RRI.

undefinedundefinedDirektur Utama RRI, I. Hendrasmo, saat memberikan sambutan dan penghargaan di HUT RRI ke-79

Baca juga: Diduga Korban TPPO, 11 Warga Sukabumi Minta Dibantu Dipulangkan dari Lokasi Penyekapan di Myanmar

“Sekali di Udara Tetap di Udara” dari Awal Berdiri

Menilik sejarah berdirinya RRI pada 79 tahun silam, warga bangsa yang tinggal di sudut-sudut mana pun di Indonesia tentu akan membenarkan pernyataan Hendrasmo itu. Bahwa “RRI menjadi media yang terus memiliki arti penting bagi masyarakat”.

Radio milik Pemerintah Indonesia ini resmi berdiri pada 11 September 1945, atau kurang dari satu bulan setelah Radio Jepang, Hoso Kyoku, berhenti beroperasi pada 19 Agustus 1945. Delapan mantan awak Hoso Kyoku yang sebelumnya aktif mengoperasikan Stasiun Radio Jepang itu di enam kota di Indonesia, kemudian mendesak Pemerintah RI yang belum seumur jagung usianya, untuk mendirikan stasiun radio sendiri. Tujuannya, agar warga Bangsa Indonesia tidak ketinggalan informasi.

Baca juga: “A Tribute to Mas Yos” di Hari Radio Nasional: Mengenang “The Singing Commodore” Lewat Buku dan Pameran

Delapan mantan awak Hoso Kyoku itu adalah Abdulrahman Saleh, Adang Kadarusman, Soehardi, Soetarji Hardjolukita, Soemarmadi, Sudomarmato, Harto, dan Maladi. Setelah melalui perjuangan berliku-liku, akhirnya RRI resmi berdiri pada 11 September 1945. Abdulrahman Saleh pun ditunjuk menjadi pemimpin pertamanya. Dan slogan sejak awal berdiri itu juga sudah seperti yang dikenal sekarang, yakni “Sekali di Udara Tetap di Udara”.

undefinedundefinedRRI di masa-masa awal berdiri

Kini, 79 tahun setelah pendirian bersejarah itu, RRI masih rutin menyapa telinga para pendengar setianya, hingga yang tinggal di pelosok Nusantara. Di Jawa Barat, RRI bahkan telah tumbuh bagaikan magnet yang mampu menyedot simpati ribuan pendengar, baik di kota maupun di desa.

Baca juga: KKM Kelompok 6 STKIP Bina Mutiara Sukabumi: Sukses Gelar Program Penanaman Bibit di Desa Titisan

Pada era tahun ‘70-’90-an, salah satu acara di RRI Bandung yang paling dinanti pendengar adalah “Baskara Saba Desa”. Acara ini diasuh dan dibawakan oleh penyiar idola yang akrab disapa “Baskara”, yang tiada lain adalah Drs H. R. Baskara, Kepala Stasiun RRI Bandung.

Suara bariton Baskara sedemikian terasa “menempel” di telinga pendengar RRI di Bandung dan Jawa Barat pada saat itu, karena sosok bersahaja ini telah menjadi penyiar RRI sejak tahun 1960-an.

undefinedundefinedPenyiar idola, Baskara, dan berita tentang dirinya di Harian Pikiran Rakyat, Bandung

Baca juga: Hujan Belum Turun, Warga 2 Kampung di Sukabumi Berburu Air ke Bantaran Sungai Cimandiri

Tak hanya “Baskara Saba Desa”, Baskara juga menjadi pengasuh acara “Yang Melulu”, akronim dari “Yang Perlu, Yang Merdu, dan Yang Lucu”. Acara ini rutin diudarakan pada setiap pagi, untuk menemani penggemar sebelum berangkat kerja atau pergi ke sekolah.

Bila acara ini dan acara-acara lain di RRI bisa sukses merebut hati pendengar, tiada lain karena di RRI tersedia ruang interaksi bagi pendengar untuk menyampaikan aspirasi, tanggapan, dan usulan. RRI pun kemudian tumbuh menjadi media hiburan, berkat adanya acara pilihan pendengar (pilpen), sekaligus juga sebagai sumber informasi terpercaya.

undefinedundefinedundefinedPenulis saat siaran sebagai bintang tamu di Studio RRI Jakarta

Baca juga: 11 September 79 Tahun Lalu, RRI Berdiri dan Setia Menginspirasi Indonesia dari Udara

Hanya di Radio Ada Komunitas Pecinta Setia

Alhasil, bisa jadi hanya di radio seperti RRI, saat dunia informasi mulai terdampak disrupsi digital, tetap tumbuh dan hadir komunitas setia pecinta radio. Dalam berbagai kesempatan, komunitas ini kerap berkumpul di stasiun-stasiun radio kesayangannya, termasuk di Studio RRI.

Kehadiran komunitas ini jelas membuktikan, RRI dan radio-radio di Indonesia akan terus ada selama para angkasawan dan angkasawati tetap mengudara. Merekalah ujung tombak penebar semangat “Inspirasi Ke-Indonesia-an” yang tidak akan pernah terpadamkan.

undefinedundefinedundefinedundefinedKomunitas pecinta radio berkunjung ke Gedung RRI Bandung

Baca juga: Kasus Pembunuhan Ibu dan Anak di Subang, Mantan Kanit Resmob Polres Subang Jadi Tersangka

Sukacita angkasawan dan angkasawati RRI Jakarta pun mewarnai perayaan HUT ke-79 RRI di Auditorium Abdulrahman Saleh, Jakarta. Utamanya, saat penyulutan obor Tri Prasetya, yang sudah menjadi tradisi di lingkungan RRI pada setiap peringatan hari ulang tahunnya.

Penyulutan obor ini dilakukan serentak dan bersamaan di Pusat dan daerah-daerah lain di Indonesia, serta dapat dilihat langsung secara online melalui jaringan internet. Karena itu, ketika Direktur RRI Pusat menyulutkan api obor pada pukul 09:00 WIB, penyulutan yang sama juga dilakukan di daerah-daerah lain di Tanah Air, tempat RRI senantiasa mengudara pada setiap harinya.

undefinedundefinedAngkasawan dan Angkasawati RRI Jakarta saat peringatan HUT RRI ke-79

Baca juga: Rampas Sepeda Motor dan Aniaya Anak di Bawah Umur, 2 Terduga Pelaku Ditangkap Polres Sukabumi Kota

Api obor yang disulut bersama-sama itu, seolah juga menjadi pertanda, bahwa RRI akan tetap “menyala” selamanya, sesuai slogan pada awal sejarah pendiriannya: “Sekali di Udara tetap di Udara”, demi para pendengar setia yang mencintainya.

RRI, radio, dan para pendengar setia memang bak lirik dalam lagu ternama karya Almarhum Penyanyi Gombloh, “Di radio, aku dengar lagu kesayanganku...” (*)

*) Kin Sanubary, pendengar setia RRI dan pemerhati siaran radio

Baca Berita dan Artikel Menarik Lainnya di Google News

Berita Terbaru

Viral Acungkan Kapak dan Teror Karyawati di Cicurug Sukabumi, Lelaki asal Cisaat Ditangkap Polisi
Dapat Ganti Rugi Tanah Lantebung, Ahli Waris Labbai Kian “Pede” Gugat PT Bumi Karsa-Kalla Grup di PN Makassar
Lebaran 2026: Selamat Tinggal Macet Horor Parungkuda-Sukabumi, Tol Bocimi Seksi 3 Siap Dibuka Fungsional
Puding Caramel Viral di Cibadak Sukabumi, Warga Cikole Sampai Jauh-Jauh Datang untuk Mengantre: “Rasanya Enak”
Duduki Tanah Ahli Waris Labbai dengan Modal SHGB, PT Bumi Karsa-Kalla Grup Bawa Bukti Fotokopi ke PN Makassar
Teladan Hukum Ahli Waris Labbai: Raih Ganti Rugi Tanpa Kekerasan, Lawan PT Bumi Karsa-Kalla Grup di Makassar
Imbauan Polda Gorontalo Jelang Idul Fitri: Hati-Hati Transaksi Emas dari Hasil PETI
Korban PT Bumi Karsa-Kalla Grup, Uang Ganti Rugi Tanah Ahli Waris Labbai Cair Juga: “Terima Kasih PN Makassar”
Jelang Buka Puasa, Kejari Kabupaten Sukabumi Berikan Takjil ke Pengguna Jalan, Kajari: “Kita Bagi-Bagi Rezeki”
Rugikan Negara Rp 394.861.618, Kades Neglasari Ditahan Kejari Kabupaten Sukabumi: “Ini Kriminalisasi"

Info Lowongan Kerja

Rupa-Rupa Kamis, 5-Mar-2026 20:23
Info Lowongan Kerja
Gelar Pengobatan Gratis, Kehadiran Bus Kesehatan Keliling PDIP Diapresiasi Kades dan Warga Nagrak Sukabumi

Info Lowongan Kerja

Rupa-Rupa Selasa, 3-Mar-2026 22:07
Info Lowongan Kerja
Diduga Dibuang, Bayi Lelaki Masih Hidup Ditemukan dalam Kebun Bambu di Parungkuda Sukabumi
Diguyur Hujan Intensitas Tinggi, Longsor dan Banjir Rendam Jalan dan Rumah Warga di Cibadak Sukabumi

Info Lowongan Kerja

Rupa-Rupa Senin, 2-Mar-2026 14:53
Info Lowongan Kerja
Kopkar Terpuji di Sukabumi: Punya Simpanan Rp 7.130.000.000, Rutin Bagikan SKHU bagi Karyawan Setiap Tahun
Aspal Jalan Rusak Parah, Mobil Pengangkut Es Krim Terbalik di Jalan Desa Sekarwangi Cibadak Sukabumi
Jabat Dirreskrimsus, Eks Kapolres Sukabumi Ini Sosialisasikan Pembentukan Desk Ketenagakerjaan Polda Gorontalo
Sempat Terlihat Kerokan Sendiri, Lelaki Pedagang Roti Ditemukan Meninggal Dunia di Cibadak Sukabumi